Masyarakat Malay Singaporean biasanya mengadakan acara pernikahan di bawah blok HDB (Rumah susun :p). Sederhana, tapi tidak mengurangi makna dari acaranya.
Waktu saya dan suami menerima undangan lisan dari tetangga kami di lt. 5, kami senang karena ini pertama kalinya diundang ke acara pernikahan penduduk Malay sini. Kami pernah ke pernikahan Chinese-Singaporean yg diselenggarakan di hotel berbintang, dimana kami akan duduk di round table dengan acara yg wah dan mewah.
Ketika kami menerima kartu undangan yg sangat sederhana, kalo dibandingkan dengan undangan2 di Indonesia, wah jauh deh.
Begitu hari H, kami menuju tempat acara, wanita dipisah dengan pria, sang ibu mempelai menyambut tiap tamu yg datang dengan ramah, pakaiannya adalah pakaian yg dipakai sehari-hari, tanpa make up seperti biasa, nggak perlu ke salon!
*sayang nggak ambil photo, abis nggak enak, takut mengganggu*
Saya dipersilakan duduk dekat 4 org ibu-ibu lainnya, meja panjang yg muat sekitar 20 org.
Makanan dihidangkan ala restoran padang. Ada yg melayani memakai kerudung seragam, cuma itu, pakaian nggak perlu seragam, dan sekali lagi nggak perlu ke salon!.
Saya diberi minuman dingin, sirup merah, makanannya pun sederhana, nasi mutton briyani + kari, acar kuning timun, ayam bumbu merah, sambal goreng paru, cumi asam manis yg dihidang dalam piring-piring kecil. Makanannya enak ternyata, pedahal ya nggak neko-neko.
Di atas meja juga dihidangkan pisang + anggur, dan kueh mueh melayu.
Overall, kesederhanaannya yg membuat saya terenyuh, rasanya pengen mengulang waktu pada saat merencanakan pernikahan dulu, yg sama sekali jauh dari sederhana, pedahal yg penting makna pernikahan itu yg esensial.
Seandainya waktu bisa berputar.....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





4 comments:
Pernah ada juga temen Indo yang ngeliat kawinannya singapore bilang, kuno sekali ya? kalau dibndingin ma Indo emang jauh. Tapi kalau kita liat cara mereka duduk di meja panjang barengan itu, malahan kayanya lebih membaurkan kita satu sama lain deh, trus, bener banget kata Echi, yang oenting mah maknanya ya...!
tapi biarpun 'cuma' di kolong blok,yg aku dengar itu bisa sampai beribu-ribu dollar loh,echie..
apalagi di kebiasaan melayu,mereka punya'harga pasar' buat hantaran dan mahar..
Memang sih Ellen kalo disini makanan biasa aja mahal, tapi kalo konsep kesederhanaannya diapply di Indo kan jadi lebih hemat.
kalo iya sih ngerasa, yang nikah itu Iya..tapi yang pesta orangtua..:-) Mungkin kalau kita jadi orangtua kita bisa apply konsep kesederhanaan kaya gitu ya..
Post a Comment